Rabu, 09 November 2011

Naskah Radio Konsultasi Gizi

Diabetes Melitus Tipe II
Narasumber    : N
Pemandu        : Pa
Pendengar      : Pe

1.   Pa   : Apakah pengertian diabetes melitus?
N     : Diabetes melitus atau yang biasa disingkat DM adalah gangguan metabolisme yang secara genetis dan klinis termasuk heterogen dengan manifestasi berupa hilangnya toleransi karbohidrat.
2. Pa    : Ada berapa golongan DM sehingga Anda menyebut topik yang akan Anda bawa malam ini adalah DM tipe II?
N     : Ada tiga tipe DM, yaitu: DM tipe I, II, dan DM gestasional.
3. Pa    : Apa yang membedakan DM tipe II dengan DM lainnya?
N     : Jadi, DM tipe II dapat terjadi karena insulin yang dihasilkan kurang, normal, ataupun banyak, tetapi terjadi penurunan sensitivitas jaringan dalam merespon insulin. Insulin merupakan hormon yang berfungsi mengubah glukosa (gula dalam darah) menjadi glikogen, yaitu: simpanan gula di hati ataupun otot. Sementara itu, pada DM tipe lain sebagian besar terjadi karena insulin yang dihasilkan kurang.
4. Pa    : Apa penyebab timbulnya DM tipe II?
N     : DM tipe II ini dapat terjadi karena resisten insulin dan kerusakan sel β pankreas. Sel β pankreas merupakan sel di organ pankreas yang menghasilkan insulin.
5. Pe    : Siapa saja orang yang beresiko menderita DM tipe II?
N     : Orang yang mengalami obestias (kegemukan) sangat beresiko menderita DM tipe II. Hal itu disebabkan karena obesitas berkaitan dengan resistensi insulin maka kelihatannya akan timbul kegagalan toleransi glukosa yang menyebabkan DM tipe II. Selain itu, orang yang mempunyai riwayat keluarga menderita DM tipe II juga beresiko menderita DM tipe II. Jika orang tua menderita DM tipe II, sekitar 90% gen anakanya membawa (carrier) DM tipe II. Faktor resiko lain adalah kurangnya aktivitas fisik dan usia tua.

6. Pa    : Tanda atau gejala apa yang ditunjukkan oleh DM tipe II?
N     : Penyandang penyakit ini mengalami hiperglikemia (kadar glukosa darah di atas normal). Hiperglikemia terjadi jika kadar glukosa darah puasa lebih besar dari 110 mg/dl dan kadar glukosa postpandrialnya (setelah makan) lebih besar dari 200 mg/dl. Adanya DM tipe II juga ditandai dengan timbulnya glukosuria yaitu urin yang dikeluarkan mengandung glukosa. Hal tersebut menyebabkan peningkatan pengeluaran urin (poliuria). Oleh karena itu, akan timbul rasa haus yang berlebihan (polidipsi). Glukosa hilang bersama urin sehingga penyandang penyakit ini mengalami keseimbangan kalori negatif kemudian terjadi penurunan berat badan. Penyandang diabetes melitus akan sering merasa lelah dan mengantuk. Rasa lapar yang berlebihan (polifagia) juga akan timbul karena kehilangan kalori.
7. Pe    : Apa dampak yang akan ditimbulkan oleh DM tipe II
N     : Pada umumnya dampak yang ditimbulkan oleh DM tipe II tidak jauh berbeda dengan dampak yang ditimbulkan oleh DM tipe lainnya. Penderita DM tipe II yang telah mendapatkan sejumlah pengobatan akan turun kadar glukosa darahnya dan dapat mengalami komplikasi berupa hipoglikemia, yaitu kadar glukosa darah yang rendah di bawah ambang normal. Hal tersebut membuat penderita sering lemas dan tidak jarang juga mengalami pingsan. Pada DM tipe II yang kronis dapat menyebabkan katarak, hipertensi, penyumbatan pada pembuluh darah, penyakit jantung koroner, dan stroke.
8. Pa    : Apa pengobatan yang dapat dilakukan untuk penyembuhan DM tipe II?
N     : Ada beberapa pengobatan yang dapat dilakukan pada penderita DM tipe II. Salah satunya adalah dengan terapi suntik insulin. Selain itu, dapat juga diberikan agen hipoglikemik ataupun obat-obatan lainnya. Pengobatan ini dilakukan dengan instruksi dan pengawasan dokter, di luar ranah ahli gizi.
9. Pe    : Bagaimana pengaturan makan yang baik untuk penderita DM tipe II?
N     : Diet rendah karbohidrat sebagian besar menurunkan kadar glukosa setelah makan, tetapi diet tersebut tidak dianjurkan untuk penyandang diabetes melitus tipe II. Hal ini berkaitan dengan kejadian kehilangan berat badan pada penyandang diabetes melitus tipe II. Karbohidrat yang diberikan diutamakan yang memiliki indeks glikemik yang rendah. Indeks glikemik merupakan tingkatan pangan dalam menaikkan kadar glukosa darah. Makanan yang mengandung karbohidrat yang berasal dari biji-bijian utuh seperti gandum utuh, buah-buahan, dan susu rendah lemak merupakan terapi diet yang dianjurkan untuk diabetes melitus tipe II. Asupan serat juga penting diperhatikan. Asupan serat dalam jumlah besar (> 50 g perhari) akan memberikan efek positif pada penyandang diabetes melitus tipe II. Untuk memenuhinya dianjurkan mengkonsumsi sayuran dan buah minimal lima porsi standar per hari. Untuk konsumsi protein, usahakan 2-3 potong per hari untuk masing-masing protein hewani dan nabati. Asupan lemak harus dikurangi. Asupan mineral dan vitamin harus cukup yang dapat bersumber dari sayuran dan buah-buahan. Jika tidak terjadi hipertensi diperbolehkan mengkonsumsi garam dapur seperti orang sehat sedangkan jika terjadi hipertensi harus mengurangi asupan garam dapurnya dan makanan-makanan yang diawetkan dengan garam.
10. Pa  : Selain pengobatan dan pengaturan makanan, hal apa yang dapat dilakukan untuk meringankan penyakit DM tipe II?
N     : Aktivitas fisik secara teratur dapat meringankan beban penyakit DM tipe II.

Kesimpulan: DM tipe II dapat terjadi karena berbagai faktor resiko. Untuk mencegahnya, kendalikan faktor resiko yang dapat kita kendalikan seperti obesitas, yaitu dengan menjaga pola makan yang baik dan aktivitas fisik secara teratur serta menerapkan prinsip-prinsip gizi seimbang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar